Prioritas Utama

(26/10/10), Merapi menunjukan keagungannya dengan letusan yang membuat para warga sempat panik dan bingung. Kabar ini sampai ke telingaku ketika aku bersama teman-teman angkatanku  sedang dalam perjalanan pulang dari Pati, Semarang.

Aku yang berlatar belakang bukan dari Jawa dan belum pernah mengalami situasi dimana gunung meletus dalam hati merasa cukup was-was. Aku pernah dengar bahwa gunung merapi sudah pernah meletus  beberapa kali meletus dan akibat yang ditimbulkan tidaklah terlalu parah. Namun, yang namanya peristiwa alam bagiku tetap saja berbahaya dan aku mencoba bertanya ke teman-temanku mengenai kejadian ini.

“Eh. Merapi meletus, gimana nih? libur besok nih?hehe.

“Halah, gak nyampe seminari lah do. Paling sekitar muntilan aja”. Ujar salah satu temanku.

Sejenak aku berpikir bahwa ada benarnya apa yang dikatakan oleh temanku tersebut. Jarak sekolah dan asramaku, Seminari Santo Petrus Canisius Mertoyudan dengan Gunung Merapi cukup jauh. Tidak mungkin lahar atau efek lain yang membahayakan kehidupan manusia akan sampai ke tempatku. Lagipula beberapa letusan yang terjadi di tahun yang lalu tidak menimbulkan efek yang terlalu parah dan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan warga sekitar. Hatikupun menjadi tenang dan berharap semoga apa yang dikatakan teman-temanku ini benar bahwa letusan merapi ini hanya peristiwa alam kecil yang tidak akan berlangsung lama.

***

Menjalani rutinitas sebagai anak asrama adalah tugasku sehari-hari. Awalnya tidaklah mudah bagiku dalam melakukan hal yang sama berulang-ulang tiap harinya. Namun, aku sadari bahwa dalam menjalani kehidupan nantinya aku tidak akan dapat lepas dari rutinitas. Bagiku, sekarang adalah persiapan untuk menjalani kehidupan di masa depan dan rutinitas yang aku jalani ini tidaklah kupandang sebagai formalitas belaka.

Setiap siang, setelah makan siang, biasanya aku menyempatkan waktuku untuk membaca koran karena di asrama tidak diperbolehkan menonton tv setiap hari. Beberapa hari setelah letusan merapi berita di koran selalu dihiasi oleh kabar mengenai keadaan sekitar warga yang terkena dampak letusan merapi. Aku mencoba terus mengikuti perkembangan dari Gunung Merapi dan informasi yang aku dapatkan tidak sesuai dengan apa yang pernah aku harapkan. Keadaan Gunung Merapi terus memburuk bahkan jangkauan titik aman dari lahar semakin jauh kian hari. Tidak ada yang dapat aku lakukan saat itu kecuali mendoakan mereka yang terkena dampak dari letusan merapi tersebut.

***

            Merapi tidak kunjung membaik bahkan efek yang ditimbulkan letusannya dirasakan oleh tempatku. Hujan pasir abu mulai melanda daerah kota Magelang. Saat itu, aku tidak dapat membayangkan keadaan para warga sekitar gunung merapi karena di Magelang saja aku keluar dari ruangan harus menggunakan masker. Saat itulah aku sadar bahwa di luar sana banyak saudaraku sedang berjuang untuk hidup di tengah situasi yang sulit sedangkan aku disini masih dalam keadaan nyaman dan terjamin. Ingin rasanya turut berpartisipasi membantu meringankan beban mereka.

Keadaan merapi yang kian memburuk tiap hari ini tentu saja membuat banyak orang-orang tergerak hatinya untuk membantu para korban termasuk sekolahku. Sekolahku membuka posko pengungsian yang berpartisipasi dalam menyalurkan bantuan dari donatur kepada para korban merapi. Hatikupun tergerak untuk ikut menjadi relawan.

Tidak diduga setiap hari bantuan selalu datang sehingga posko semakin penuh sesak dengan barang-barang sandang dan pangan. Banyak teman-temanku ikut berpartisipasi dalam posko ini. Aku juga ikut berpartisipasi dalam posko ini walau hanya mengangkat barang-barang. Aku merenungkan bahwa melakukan hal yang kecil; mengangkat barang-barang itu lebih baik daripada aku duduk diam dan hanya melihat kesedihan yang dialami oleh para korban merapi. Aku cukup prihatin melihat situasi ini terlebih saat aku mengantar air ke posko pengungsian yang bertempat di sekolah Pangudi Luhur Vanlith Muntilan. Aku melihat kota Muntilan seperti kota mati yang penuh debu merapi dan hampir tidak ada aktivitas apapun yang dilakukan oleh warga. Hal ini tentu saja membangkitkan semangatku kembali untuk membantu para korban letusan merapi ini.

Banyak waktu yang aku luangkan untuk berpartisipasi membantu para korban merapi. Awalnya aku merasa baik-baik saja dan enjoy menjadi seorang relawan. Namun, beberapa hari kemudian aku sadar telah melakukan sesuatu yang salah. Aku terlalu memfokuskan diri untuk menjadi seorang relawan sehingga waktuku banyak kugunakan untuk berpartisipasi dalam posko. Tugas asrama dan sekolahku mulai berantakan. Saat itulah aku sadar bahwa aku telah  salah dalam memprioritaskan waktuku.

Kemudian,  dalam permenungan aku sadar bahwa aku masih seorang pelajar maka prioritasku tentu saja adalah belajar. Menjadi seorang relawan memang adalah keputusan yang mulia namun jangan sampai mengorbankan diri sejauh ini. Di luar sana toh masih banyak relawan yang lebih siap membantu para korban merapi.

***

            Aku memutuskan tetap ikut berpartisipasi dalam posko namun dalam frekuensi waktu tidak sesering sebelumnya. Belajar dan mengerjakan tugas-tugas baik asrama dan sekolah adalah prioritas utamaku. Aku berusaha kembali menjalani rutinitas seperti biasanya dan mencoba menyempatkan diri untuk membantu di posko.

Aku bersyukur akan pengalamanku selama menjadi relawan. Aku mendapatkan banyak sesuatu yang sejatinya mengembangkan kepribadianku. Selain mengingatkanku akan prioritasku sebagai remaja yang masih menjalani jenjang pendidikan, pengalaman ini juga menyadarkanku akan perlunya rasa syukur terhadap hidup ini. Aku disini hidup dalam kenyamanan bahkan tidak kekurangan apapun kerap kali tidak merasa terpuaskan sedangkan banyak orang di luar sana tidak mendapatkan kehidupan layak seperti apa yang telah aku dapatkan di seminari ini. Aku sudah selayaknya selalu mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan akan rahmat yang telah aku terima dalam hidup ini.

Relawan bagiku adalah orang yang berani mengorbankan waktu pribadinya bagi kepentingan orang lain. Namun, selama masih memiliki kepentingan yang sekiranya mendesak bagi dirinya hendaknya ia dapat  mempriotaskan kepentingannya karena untuk dapat membantu orang lain kita  harus dapat menyelesaikan tugas pribadi terlebih dahulu.

Advertisements

About Mutiara Kehidupan

Hanya ingin berkembang dan mencoba menyalurkan inspirasi
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Prioritas Utama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s