Sebuah Surat

 

“Pa, Jay menemukan sebuah surat.”

“Surat apa Jay?”

“Gak tau pa. Jay belum buka kok.”

“Coba buka. Baca bareng-bareng.”

“Nih, pa.”

***

Sulit sekali beradaptasi di lingkungan baru ini. Sebagai seorang perantauan merupakan suatu hal yang wajar untuk sulit beradaptasi di daerah yang memiliki situasi jauh berbeda dari tempat asal. Namun, ini berbeda. Aku berada di daerah atau situasi yang absurd. Aneh. Sungguh aneh. Bayangkan saja anda sekarang berada di dalam situasi yang memberikan anda pilihan  membentuk kepribadian yang mendalam atau dangkal. Aku yakin kebanyakan orang akan memilih opsi yang pertama. Namun, seandainya kalian dihadapkan oleh fakta yang seperti ini.

Sebagai seorang remaja membutuhkan yang namanya dihargai, diakui keberadaannya dan dicintai. Hal tersebut sudah menjadi kebutuhan primer bagi remaja pada umumnya. Nah di tempat baruku ini orang-orang yang dihargai, diakui adalah orang-orang yang popular bukan dari segi kualitasnya melainkan dengan cari perhatian. Sedangkan orang yang memiliki kemampuan, pandai namun tidak pandai mencari perhatian seakan-akan tidak diperhitungkan keberadaannya. Hal inilah yang membuatku terus berdiskresi untuk memilih kearah mana pribadiku akan kukembangkan.

Sebagai seorang perantauan, kebutuhan primer tersebut sangat aku butuhkan. Ketika aku melihat teman-temanku yang melakukan banyak kenakalan, aku merasa kebutuhan primer remaja mereka terpenuhi. Mereka diperhatikan, diakui dan kerap dipercaya dalam kepanitiaan-kepanitiaan. Dengn melihat kenyataan tersebut aku akhirnya menyerah terhadap diriku sendiri. Aku mencoba menjadi seperti mereka. Nakal, cari perhatian, dan melakukan hal-hal yang bodoh. Pribadi bayangan ini terus aku hidupi dan kebutuhan primer tersebut terpenuhi dalam diriku.

Beberapa hari kemudian, dalam permenungan, aku menyadari bahwa hidupku mulai dangkal. Aku menjalani hidup dengan kepribadian yang merupakan bayangan dari pribadiku sesungguhnya. Sial. Ini bukan diriku sesungguhnya. Aku telah menyerah dalam kemunafikan untuk mengejar kebahagiaan sesaat. Hal ini tidak bermanfaat bagi diriku dan hanya akan membuat hidupku dangkal dan tidak berarti. Aku harus kembali menjadi diriku sendiri. Lebih baik diasingkan daripada menyerah dalam kemunafikan.

Aku menyebut pencerahan yang aku alami tersebut adalah rahmat Allah. Ketika aku meminta kepribadian sebagai seorang yang pantang menyerah, Tuhan tidak akan langsung memberikannya melainkan memberikan kesempatan untuk menjadi seorang yang pantang menyerah. Mulai saat ini aku akan menjalani hidup dengan pribadi diriku sendiri, tidak dibuat-buat ataupun secara munafik. Mendalam tapi diasingkan itu lebih baik daripada dangkal tapi diperhatikan.

Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, aku menyadari sesuatu hal yang sangat mendasar dari masalahku tersebut. Aku menjalani hari-hariku sebagai diriku apa adanya; ekstensi dari jiwaku dan aku merasa tidak diasingkan. Aku bahagia dengan pribadiku dan aku yakin selalu diperhatikan oleh Tuhan. Aku seharusnya tidak perlu takut diasingkan karena Tuhan tidak akan mungkin mengasingkanku. Aku lahir di dunia ini pasti memiliki peran yang diberikan oleh-Nya untuk aku jalani. Aku seorang pemenang dan aku tidak boleh menyerah dalam kemunafikan.

***

“Wah, Jay terharu membaca kisah yang ada di dalam surat ini pa.”

“Papa juga. Hehe.”

“Jay ingin seperti orang ini pa. Jay yakin yang menulis ini pasti bukan orang biasa.”

“Lah? bukan orang biasa gimana? Alien?”

“ Ya bukan pa. Orang ini tidak menyerah dalam kemunafikannya walaupun keadaan mendesaknya”

“Ya, makanya. Besok adik juga jadi seperti itu donk.Ya udah sana cari mama, suruh buat makan malam yang enak!”

“Oke pa..”

Surat ini sudah kusam. Tetapi masih utuh dan dapat dibaca. Sudah berapa tahun ya sejak saat itu?. Kalau tidak salah di dalam amplop ini.

Aku tidak akan pernah menyerah.

14 Juni 2011, Arnoldus Setia Nugraha

           

Haha benar juga. Sudah 25 tahun yang lalu ya…

Advertisements

About Mutiara Kehidupan

Hanya ingin berkembang dan mencoba menyalurkan inspirasi
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s