Seandainya (aku) bukan (bangsa) Indonesia?


Setiap hari senin, lima menit sebelum waktu kegiatan belajar-mengajar dimulai, di sekolah, kami para seminaris menyanyikan lagu Indonesia Raya di kelas masing-masing. Seketika kelas XII-IPA yang saya tempati menjadi gaduh oleh kemerduan dan keindahan syair lagu kebangsaan ibu pertiwi Indonesia.

Saya mencoba lebih menghayati menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia ini sambil melihat bendera merah putih yang berdiri tegak bercagak besi putih di depan kelas. Entah mengapa, seketika air mata saya perlahan membasahi biji mata saya. Lagu Indonesia Raya mengajak saya membayangkan bagaimana dahulu para pejuang bangsa berusaha merebut kemerdekaan Negara Indonesia dari genggaman penjajah. Perjuangan yang tentu saja tidak mudah dan mengorbankan banyak korban jiwa para pejuang. Perjuangan tersebut sangat berperan penting bagi kesejahteraan kehidupan bangsa Indonesia.

Tetapi sekarang, perjuangan tersebut seakan dilupakan dan hasil dari perjuangan tersebut tidak lebih dari sekedar siklus kemiskinan yang terus berputar tiada henti; menghadirkan penderitaan bagi rakyat Indonesia. Indonesia yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya yang notabene menjadi senjata utama dalam pembangunan Negara, terlihat telah lumpuh dan bahkan menjadi senjata utama dalam memajukan Negara lain. Fenomena apa ini?

Apakah bangsa Indonesia sebodoh itu?

Kerap kali saya mendengar pernyataan seperti itu, “ Bangsa Indonesia mudah dibodohi karena bangsa Indonesia itu bodoh.” Pernyataan tersebut sangat menyinggung perasaan saya, sebagai bangsa Indonesia. Padahal yang memberi pernyataan tersebut juga adalah orang Indonesia. Tetapi, pernyataan ini seakan mengingatkan saya yang juga kerap menyesali identitas saya sebagai bangsa Indonesia. Saya sering bertanya dalam diri saya sendiri, mengapa saya harus terlahir sebagai bangsa Indonesia? Tidak ada yang dapat dibanggakan dari Negara Indonesia selain para koruptornya yang banyak dan tingkat kemiskinannya yang tinggi. Apa yang dapat dibanggakan?

Pernyataan dan pertanyaan yang menggambarkan rasa penyesalan inilah yang sering saya geluti. Tetapi, justru pernyataan dan pertanyaan inilah yang membuat saya mengerti akan arti nasionalisme. Saya mengandaikan jika semua kaum muda di Indonesia berpikiran sama seperti saya, saya yakin bahwa sampai akhir jaman Indonesia akan terus terpuruk dan tidak akan pernah bisa bangkit. Jika orang yang menyesali identitasnya sebagai bangsa Indonesia dan mencoba lari dari identitasnya tersebut disebut orang yang pintar, menjadi orang yang bodoh selamanya-pun saya mau.

Bangsa Indonesia tidaklah bodoh. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang pintar, beradab dan maju. Buktinya adalah kita bisa tilik sejarah Indonesia saat jaman orde baru. Indonesia kerap mengekspor guru-guru ke Negara Asia. Ini menunjukkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang maju dan berpendidikan. Sesuatu yang membanggakan bukan?

Tetapi mengapa sekarang Indonesia yang mengimpor guru-guru dari Negara lain. Fenomena apa ini?

Para TKI; tenaga kerja Indonesia. Bagi saya TKI menunjukkan bahwa Negara ini adalah Negara korup karena tidak bisa menghidupi bangsanya sendiri. Dimana kekayaan sumber daya alamnya yang notabene dapat menjadi senjata utama dalam mengatasi hal ini. Saya tidak habis piker apa yang ada di otak para koruptor-koruptor di Indonesia. Tidakkah mereka menyadari ada tindakan lain yang lebih penting dan berguna daripada sekedar mencuri uang rakyat. Tindakan mereka hanya menambah penderitaan rakyat, membengkakkan utang Negara yang pada akhirnya menciptakan sebuah siklus yang terus berputar dan berputat dalam keadaan yang sama, yakni kemiskinan.

Indonesia, sang garuda yang memiliki kekayaan SDA berlimpah ruah terlihat seperti telah kehilangan dua sayapnya. Realita yang kerap terjadi di dalamnya menggambarkan sebuah Negara yang tidak lebih dari golongan Negara paling hina di dunia. Ibu pertiwi apa yang dapat saya lakukan demi mengharumkan namamu kembali?

Mata saya sudah mulai berair, nafas dalam dada sudah mulai tersendat-sendat, namun saya mencoba menahannya. Saya tidak ingin terlihat seperti bayi cengeng yang karena sebuah lagu saja menangis.

Dada saya berdetak kencang dan semangat saya berkobar-kobar. Soal tes tengah semester Bahasa Indonesia telah mendarat di meja yang saya tempati. Saya melihat soal tersebut dan sadar bahwa yang dapat saya lakkukan sebagai kaum muda untuk mengharumkan kembali nama Indonesia dimulai dari ketotalan saya menyelesaikan tes tengah semester ini. Saya persembahkan segala proses usaha belajar dan hasil yang saya capai dalam Tes Tengah Semester ini kepada ibu pertiwi saya, Indonesia.

Pro Eclesia et Patrie. Indonesia adalah agama ke dua saya. Akan saya perjuangkan dan akan saya berikan yang terbaik dari hasil perjuangan saya kepada Tuhan dan kepadamu, Indonesia.

“Indonesia tumpah darahku. Engkau selalu ada di dadaku, di hatiku dan di jiwaku.”

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Prioritas Utama

(26/10/10), Merapi menunjukan keagungannya dengan letusan yang membuat para warga sempat panik dan bingung. Kabar ini sampai ke telingaku ketika aku bersama teman-teman angkatanku  sedang dalam perjalanan pulang dari Pati, Semarang.

Aku yang berlatar belakang bukan dari Jawa dan belum pernah mengalami situasi dimana gunung meletus dalam hati merasa cukup was-was. Aku pernah dengar bahwa gunung merapi sudah pernah meletus  beberapa kali meletus dan akibat yang ditimbulkan tidaklah terlalu parah. Namun, yang namanya peristiwa alam bagiku tetap saja berbahaya dan aku mencoba bertanya ke teman-temanku mengenai kejadian ini.

“Eh. Merapi meletus, gimana nih? libur besok nih?hehe.

“Halah, gak nyampe seminari lah do. Paling sekitar muntilan aja”. Ujar salah satu temanku.

Sejenak aku berpikir bahwa ada benarnya apa yang dikatakan oleh temanku tersebut. Jarak sekolah dan asramaku, Seminari Santo Petrus Canisius Mertoyudan dengan Gunung Merapi cukup jauh. Tidak mungkin lahar atau efek lain yang membahayakan kehidupan manusia akan sampai ke tempatku. Lagipula beberapa letusan yang terjadi di tahun yang lalu tidak menimbulkan efek yang terlalu parah dan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan warga sekitar. Hatikupun menjadi tenang dan berharap semoga apa yang dikatakan teman-temanku ini benar bahwa letusan merapi ini hanya peristiwa alam kecil yang tidak akan berlangsung lama.

***

Menjalani rutinitas sebagai anak asrama adalah tugasku sehari-hari. Awalnya tidaklah mudah bagiku dalam melakukan hal yang sama berulang-ulang tiap harinya. Namun, aku sadari bahwa dalam menjalani kehidupan nantinya aku tidak akan dapat lepas dari rutinitas. Bagiku, sekarang adalah persiapan untuk menjalani kehidupan di masa depan dan rutinitas yang aku jalani ini tidaklah kupandang sebagai formalitas belaka.

Setiap siang, setelah makan siang, biasanya aku menyempatkan waktuku untuk membaca koran karena di asrama tidak diperbolehkan menonton tv setiap hari. Beberapa hari setelah letusan merapi berita di koran selalu dihiasi oleh kabar mengenai keadaan sekitar warga yang terkena dampak letusan merapi. Aku mencoba terus mengikuti perkembangan dari Gunung Merapi dan informasi yang aku dapatkan tidak sesuai dengan apa yang pernah aku harapkan. Keadaan Gunung Merapi terus memburuk bahkan jangkauan titik aman dari lahar semakin jauh kian hari. Tidak ada yang dapat aku lakukan saat itu kecuali mendoakan mereka yang terkena dampak dari letusan merapi tersebut.

***

            Merapi tidak kunjung membaik bahkan efek yang ditimbulkan letusannya dirasakan oleh tempatku. Hujan pasir abu mulai melanda daerah kota Magelang. Saat itu, aku tidak dapat membayangkan keadaan para warga sekitar gunung merapi karena di Magelang saja aku keluar dari ruangan harus menggunakan masker. Saat itulah aku sadar bahwa di luar sana banyak saudaraku sedang berjuang untuk hidup di tengah situasi yang sulit sedangkan aku disini masih dalam keadaan nyaman dan terjamin. Ingin rasanya turut berpartisipasi membantu meringankan beban mereka.

Keadaan merapi yang kian memburuk tiap hari ini tentu saja membuat banyak orang-orang tergerak hatinya untuk membantu para korban termasuk sekolahku. Sekolahku membuka posko pengungsian yang berpartisipasi dalam menyalurkan bantuan dari donatur kepada para korban merapi. Hatikupun tergerak untuk ikut menjadi relawan.

Tidak diduga setiap hari bantuan selalu datang sehingga posko semakin penuh sesak dengan barang-barang sandang dan pangan. Banyak teman-temanku ikut berpartisipasi dalam posko ini. Aku juga ikut berpartisipasi dalam posko ini walau hanya mengangkat barang-barang. Aku merenungkan bahwa melakukan hal yang kecil; mengangkat barang-barang itu lebih baik daripada aku duduk diam dan hanya melihat kesedihan yang dialami oleh para korban merapi. Aku cukup prihatin melihat situasi ini terlebih saat aku mengantar air ke posko pengungsian yang bertempat di sekolah Pangudi Luhur Vanlith Muntilan. Aku melihat kota Muntilan seperti kota mati yang penuh debu merapi dan hampir tidak ada aktivitas apapun yang dilakukan oleh warga. Hal ini tentu saja membangkitkan semangatku kembali untuk membantu para korban letusan merapi ini.

Banyak waktu yang aku luangkan untuk berpartisipasi membantu para korban merapi. Awalnya aku merasa baik-baik saja dan enjoy menjadi seorang relawan. Namun, beberapa hari kemudian aku sadar telah melakukan sesuatu yang salah. Aku terlalu memfokuskan diri untuk menjadi seorang relawan sehingga waktuku banyak kugunakan untuk berpartisipasi dalam posko. Tugas asrama dan sekolahku mulai berantakan. Saat itulah aku sadar bahwa aku telah  salah dalam memprioritaskan waktuku.

Kemudian,  dalam permenungan aku sadar bahwa aku masih seorang pelajar maka prioritasku tentu saja adalah belajar. Menjadi seorang relawan memang adalah keputusan yang mulia namun jangan sampai mengorbankan diri sejauh ini. Di luar sana toh masih banyak relawan yang lebih siap membantu para korban merapi.

***

            Aku memutuskan tetap ikut berpartisipasi dalam posko namun dalam frekuensi waktu tidak sesering sebelumnya. Belajar dan mengerjakan tugas-tugas baik asrama dan sekolah adalah prioritas utamaku. Aku berusaha kembali menjalani rutinitas seperti biasanya dan mencoba menyempatkan diri untuk membantu di posko.

Aku bersyukur akan pengalamanku selama menjadi relawan. Aku mendapatkan banyak sesuatu yang sejatinya mengembangkan kepribadianku. Selain mengingatkanku akan prioritasku sebagai remaja yang masih menjalani jenjang pendidikan, pengalaman ini juga menyadarkanku akan perlunya rasa syukur terhadap hidup ini. Aku disini hidup dalam kenyamanan bahkan tidak kekurangan apapun kerap kali tidak merasa terpuaskan sedangkan banyak orang di luar sana tidak mendapatkan kehidupan layak seperti apa yang telah aku dapatkan di seminari ini. Aku sudah selayaknya selalu mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan akan rahmat yang telah aku terima dalam hidup ini.

Relawan bagiku adalah orang yang berani mengorbankan waktu pribadinya bagi kepentingan orang lain. Namun, selama masih memiliki kepentingan yang sekiranya mendesak bagi dirinya hendaknya ia dapat  mempriotaskan kepentingannya karena untuk dapat membantu orang lain kita  harus dapat menyelesaikan tugas pribadi terlebih dahulu.

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Sebuah Surat

 

“Pa, Jay menemukan sebuah surat.”

“Surat apa Jay?”

“Gak tau pa. Jay belum buka kok.”

“Coba buka. Baca bareng-bareng.”

“Nih, pa.”

***

Sulit sekali beradaptasi di lingkungan baru ini. Sebagai seorang perantauan merupakan suatu hal yang wajar untuk sulit beradaptasi di daerah yang memiliki situasi jauh berbeda dari tempat asal. Namun, ini berbeda. Aku berada di daerah atau situasi yang absurd. Aneh. Sungguh aneh. Bayangkan saja anda sekarang berada di dalam situasi yang memberikan anda pilihan  membentuk kepribadian yang mendalam atau dangkal. Aku yakin kebanyakan orang akan memilih opsi yang pertama. Namun, seandainya kalian dihadapkan oleh fakta yang seperti ini.

Sebagai seorang remaja membutuhkan yang namanya dihargai, diakui keberadaannya dan dicintai. Hal tersebut sudah menjadi kebutuhan primer bagi remaja pada umumnya. Nah di tempat baruku ini orang-orang yang dihargai, diakui adalah orang-orang yang popular bukan dari segi kualitasnya melainkan dengan cari perhatian. Sedangkan orang yang memiliki kemampuan, pandai namun tidak pandai mencari perhatian seakan-akan tidak diperhitungkan keberadaannya. Hal inilah yang membuatku terus berdiskresi untuk memilih kearah mana pribadiku akan kukembangkan.

Sebagai seorang perantauan, kebutuhan primer tersebut sangat aku butuhkan. Ketika aku melihat teman-temanku yang melakukan banyak kenakalan, aku merasa kebutuhan primer remaja mereka terpenuhi. Mereka diperhatikan, diakui dan kerap dipercaya dalam kepanitiaan-kepanitiaan. Dengn melihat kenyataan tersebut aku akhirnya menyerah terhadap diriku sendiri. Aku mencoba menjadi seperti mereka. Nakal, cari perhatian, dan melakukan hal-hal yang bodoh. Pribadi bayangan ini terus aku hidupi dan kebutuhan primer tersebut terpenuhi dalam diriku.

Beberapa hari kemudian, dalam permenungan, aku menyadari bahwa hidupku mulai dangkal. Aku menjalani hidup dengan kepribadian yang merupakan bayangan dari pribadiku sesungguhnya. Sial. Ini bukan diriku sesungguhnya. Aku telah menyerah dalam kemunafikan untuk mengejar kebahagiaan sesaat. Hal ini tidak bermanfaat bagi diriku dan hanya akan membuat hidupku dangkal dan tidak berarti. Aku harus kembali menjadi diriku sendiri. Lebih baik diasingkan daripada menyerah dalam kemunafikan.

Aku menyebut pencerahan yang aku alami tersebut adalah rahmat Allah. Ketika aku meminta kepribadian sebagai seorang yang pantang menyerah, Tuhan tidak akan langsung memberikannya melainkan memberikan kesempatan untuk menjadi seorang yang pantang menyerah. Mulai saat ini aku akan menjalani hidup dengan pribadi diriku sendiri, tidak dibuat-buat ataupun secara munafik. Mendalam tapi diasingkan itu lebih baik daripada dangkal tapi diperhatikan.

Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, aku menyadari sesuatu hal yang sangat mendasar dari masalahku tersebut. Aku menjalani hari-hariku sebagai diriku apa adanya; ekstensi dari jiwaku dan aku merasa tidak diasingkan. Aku bahagia dengan pribadiku dan aku yakin selalu diperhatikan oleh Tuhan. Aku seharusnya tidak perlu takut diasingkan karena Tuhan tidak akan mungkin mengasingkanku. Aku lahir di dunia ini pasti memiliki peran yang diberikan oleh-Nya untuk aku jalani. Aku seorang pemenang dan aku tidak boleh menyerah dalam kemunafikan.

***

“Wah, Jay terharu membaca kisah yang ada di dalam surat ini pa.”

“Papa juga. Hehe.”

“Jay ingin seperti orang ini pa. Jay yakin yang menulis ini pasti bukan orang biasa.”

“Lah? bukan orang biasa gimana? Alien?”

“ Ya bukan pa. Orang ini tidak menyerah dalam kemunafikannya walaupun keadaan mendesaknya”

“Ya, makanya. Besok adik juga jadi seperti itu donk.Ya udah sana cari mama, suruh buat makan malam yang enak!”

“Oke pa..”

Surat ini sudah kusam. Tetapi masih utuh dan dapat dibaca. Sudah berapa tahun ya sejak saat itu?. Kalau tidak salah di dalam amplop ini.

Aku tidak akan pernah menyerah.

14 Juni 2011, Arnoldus Setia Nugraha

           

Haha benar juga. Sudah 25 tahun yang lalu ya…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Posted in Uncategorized | 1 Comment